- By: Dewan Pengembangan Organisasi
Organisasi mahasiswa seharusnya ada sebagai wadah untuk berkembang bagi para mahasiswa. Namun, dalam banyak organisasi mahasiswa, organisasi hanya dijadikan sebagai aspek formalitas belaka. Banyak organisasi yang hanya berorientasi pada jabatan dan struktur saja, mahasiswa lebih bangga mencantumkan jabatan mereka seperti ketua umum, sekretaris jendral, ataupun koordinator divisi di media sosial dibandingkan menjelaskan kontribusi yang telah mereka berikan, hal ini memicu kepada organisasi yang tidak sehat, dimana organisasi yang terlalu berorientasi pada jabatan membuat perebutan posisi kepengurusan menjadi lebih penting dibanding tujuan utama organisasi itu sendiri.
Selain terlalu berorientasi pada jabatan, budaya rapat yang tidak produktif juga merupakan sebuah pertanda bahwa organisasi tersebut menjadi melenceng dari tujuan utamanya. Rapat sering kali mengganggu jam istirahat ataupun akademik, hal ini menunjukkan ketidakmampuan mahasiswa dalam melakukan time management yang baik, sedangkan dalam berorganisasi time management merupakan hal yang sangat penting, apabila mahasiswa tidak dapat menguasainya, dapat dibilang salah satu tujuan mereka berada di organisasi tidak tercapai.
Organisasi juga seringkali dijalankan layaknya sebuah event organizer, di mana mahasiswa hanya mementingkan berjalannya sebuah program kerja dan melupakan aspek-aspek lain dalam berorganisasi. Pengembangan sumber daya manusia yang ada di dalam internal organisasi, hubungan organisasi dengan pihak eksternal, seringkali dilupakan oleh mahasiswa dan membuat organisasi mereka tidak dapat mencapai tujuan utama organisasi sebagai wadah untuk berkembang melainkan menjadikan organisasi sebagai event organizer yang tidak ada bayaran.
Di dalam sebuah organisasi mahasiswa seringkali juga ditemui pelaksanaan acara atau program kerja yang tidak lebih dari sekadar formalitas, seringkali program kerja dibuat hanya untuk memenuhi kewajiban pada proposal dan laporan pertanggungjawaban (LPJ), pembuatan proposal dan LPJ menjadi tujuan utama bukan implementasi dari proker tersebut, hal ini disebabkan karena tujuan dan urgensi dari pelaksanaan program kerja yang tidak jelas atau tidak sesuai dengan visi dan misi organisasi. Pelaksanaan program kerja yang hanya berbasis pada formalitas tanpa timbal balik jelas yang didapat kepada pengurus hanya akan membuang tenaga, pikiran atau materi saja.
Pada hakikatnya, substansi mahasiswa tidak dapat dipisahkan dari identitasnya sebagai insan akademik dan agen perubahan. Mahasiswa diharapkan mampu berpikir kritis terhadap berbagai persoalan sosial, menghasilkan gagasan yang konstruktif, serta memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat. Organisasi kemahasiswaan dibentuk bukan semata-mata untuk melahirkan pemimpin yang pandai mengelola administrasi, melainkan juga untuk menciptakan ruang yang mampu membentuk karakter, meningkatkan kapasitas intelektual, dan menumbuhkan semangat pengabdian. Oleh karena itu, organisasi hanyalah sebuah alat untuk mencapai tujuan yang lebih besar, yaitu pengembangan kualitas mahasiswa secara menyeluruh. Ketika organisasi dipahami sebagai tujuan akhir, maka substansi yang seharusnya menjadi ruh dari aktivitas mahasiswa akan mulai terpinggirkan.
Dominasi formalitas tersebut membawa dampak yang cukup serius terhadap substansi mahasiswa. Salah satu dampak yang paling terlihat adalah menurunnya budaya intelektual dalam organisasi kemahasiswaan. Diskusi akademik yang dahulu menjadi ciri khas organisasi mahasiswa mulai tergantikan oleh pembahasan administratif yang berulang. Ruang-ruang kajian yang membahas isu sosial, ekonomi, pendidikan, maupun kebijakan publik semakin berkurang dibandingkan dengan rapat teknis pelaksanaan program kerja. Akibatnya, mahasiswa yang aktif berorganisasi belum tentu memiliki kemampuan analisis dan berpikir kritis yang baik.
Selain itu, aktivisme mahasiswa berpotensi mengalami degradasi menjadi sekadar simbol dan seremonial. Mahasiswa yang seharusnya hadir sebagai penyambung aspirasi justru terjebak dalam rutinitas administratif organisasi. Sensitivitas terhadap isu-isu publik pun mulai menurun karena energi dan waktu lebih banyak dicurahkan untuk memenuhi berbagai formalitas internal organisasi. Akibatnya, organisasi mahasiswa kehilangan fungsinya sebagai ruang transformasi intelektual dan sosial yang mampu melahirkan gagasan-gagasan progresif.
Fenomena dominasi formalitas ini kerap kali berakar dari sistem kaderisasi yang jarang dievaluasi secara kritis, di mana penerus baru meneruskan pola kerja generasi sebelumnya tanpa mempertanyakan relevansinya, sehingga budaya rapat berlebihan dan orientasi administratif terus berulang. Meski begitu, pola ini bukan sesuatu yang mutlak terjadi di semua organisasi. Pada kepengurusan yang cukup reflektif, evaluasi dan improvisasi justru dapat memutus siklus tersebut, menunjukkan bahwa akar masalahnya bukan pada kaderisasi itu sendiri, melainkan pada ada tidak ya kesadaran kolektif untuk terus memperbaiki pola kerja organisasi.
Di sisi lain, tekanan eksternal tetap perlu diperhitungkan. Di era digital yang kompetitif, banyak mahasiswa memandang jabatan organisasi sebagai nilai jual untuk CV atau portofolio, terutama demi melamar magang, beasiswa maupun pekerjaan. Ketika validitas eksternal ini menjadi motivasi, kesadaran kolektif untuk terus mengevaluasi pola kerja organisasi menjadi semakin penting, untuk menghindari orientasi pengurus berpotensi bergeser dari kontribusi nyata kembali ke sekadar pencitraan diri.
Untuk mengatasi akar masalah ini, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah mengubah paradigma keberhasilan organisasi. Yang tadinya hanya sekadar rapinya LPJ, bisa diubah dengan sejauh mana anggota tumbuh secara intelektual dan apa dampak nyata yang dirasakan lingkungan kampus. Evaluasi organisasi semestinya juga mencakup pertanyaan reflektif seperti itu, bukan berhenti pada kehadiran rapat atau ketepatan waktu dalam mengumpulkan LPJ. Selain itu, budaya diskusi dan kajian perlu dihidupkan kembali sebagai bagian inti kegiatan, bukan sekadar pelengkap yang mudah tergeser oleh urusan administratif.
Kedua, efisiensi pengelolaan organisasi juga menjadi kunci. Rapat yang tidak produktif dapat diminimalkan lewat manajemen waktu yang disiplin dan daftar topik diskusi. Hal ini akan membebaskan lebih banyak waktu dan energi untuk fokus pada pengembangan diri Dan substansi, bukan habis pada rutinitas administratif semata.
Pada akhirnya, formalitas dalam organisasi mahasiswa bukanlah sesuatu yang sepenuhnya harus dihilangkan, sebab administrasi dan struktur tetap dibutuhkan sebagai kerangka kerja yang menjaga keteraturan. Namun, formalitas semestinya berperan sebagai alat, bukan tujuan. Ketika mahasiswa mampu menempatkan substansi sebagai ruh utama berorganisasi, maka organisasi kemahasiswaan akan kembali menjadi ruang yang benar-benar melahirkan pemikir kritis, agen perubahan dan pribadi yang lebih matang secara intelektual maupun sosial. Reformasi ini menuntut kesadaran kolektif, baik dari pengurus maupun anggota, bahwa jabatan dan program kerja hanyalah saran, sementara pertumbuhan diri dan kontribusi nyata adalah tujuan yang sesungguhnya harus dikejar.
Yuk tes pemahaman kamu dan menangkan hadiah TNG sebesar RM5! ๐
Cuma 1 minggu aja (31 Juli – 7 Agustus), jadi jangan sampai kelewatan!
Pemenang ditentukan berdasarkan skor tertinggi yaa ๐
Jangan lupa isi nama pemain dengan nama asli + Instagram kalian!
Contoh: Keumala (keumalaisha)
Leave a Reply