Mengukur Dampak PPI dalam Penguatan Identitas Pelajar Indonesia di Luar Negeri

  • By: Advokasi dan Pendampingan

Setiap tahun, banyak sekali pelajar Indonesia melangkah keluar dari tanah air untuk menempuh pendidikan di berbagai belahan dunia, dan salah satunya adalah Malaysia. Di balik semangat mengejar ilmu dan pengalaman internasional, kita sebagai pelajar Indonesia membawa serta sesuatu yang tidak kalah penting, yakni identitas keindonesiaan. Bahasa, nilai-nilai budaya, kebiasaan sosial, dan kebangsaan yang telah tertanam sejak kecil menjadi bekal yang menyertai perjalanan akademik kita di negeri orang.

Namun, menjadi pelajar Indonesia di luar negeri bukan hanya soal menuntut ilmu di lingkungan akademik baru, tetapi juga soal bagaimana mempertahankan jati diri di tengah arus budaya yang berbeda. Di sinilah pertanyaan penting muncul: sejauh mana pelajar Indonesia mampu menjaga identitas kebangsaannya dan tantangan apa saja yang sebenarnya mereka hadapi?

Pelajar Indonesia yang belajar di luar negeri dihadapkan pada lingkungan sosial dan akademik yang sangat berbeda dari tanah air. Pergaulan lintas negara, sistem pendidikan yang berbeda, hingga norma sosial setempat menuntut mereka beradaptasi secara cepat. Proses adaptasi ini, jika tidak diimbangi dengan kesadaran untuk tetap menjaga identitas, dapat perlahan menggeser nilai-nilai kebangsaan yang sebelumnya melekat, mulai dari cara berkomunikasi, cara berpikir, hingga cara memandang budaya sendiri.

Selain itu, di banyak kampus luar negeri, ruang untuk merayakan atau menunjukkan identitas budaya asal tidak selalu tersedia secara terstruktur. Sebab tanpa dukungan yang memadai, banyak dari mereka akhirnya memilih jalan yang lebih mudah, yaitu berbaur sepenuhnya tanpa mempertahankan unsur identitas nasional dalam kehidupan sehari-hari.

Tuntutan akademik di luar negeri umumnya juga lebih ketat, dengan beban tugas, riset, dan standar penilaian yang tinggi. Kondisi ini membuat sebagian pelajar Indonesia sulit meluangkan waktu untuk terlibat dalam kegiatan kebangsaan atau komunitas pelajar. Akibatnya, interaksi dengan sesama pelajar Indonesia menjadi terbatas dan rasa keterikatan terhadap identitas kolektif sebagai bangsa Indonesia pun berpotensi melemah seiring waktu.

Tidak sedikit juga pelajar Indonesia yang mengalami rasa asing atau bahkan minder terhadap latar belakang budayanya sendiri ketika berada di lingkungan yang didominasi budaya asing. Stereotip, kurangnya representasi, atau perbedaan cara pandang dapat memicu krisis kepercayaan diri budaya, di mana pelajar merasa perlu menyesuaikan diri secara berlebihan hingga menjauh dari akar identitasnya sendiri.

Jarak yang jauh dari keluarga dan lingkungan asal turut menjadi tantangan tersendiri. Pelajar Indonesia di luar negeri kerap menghadapi persoalan pribadi maupun akademik tanpa pendampingan yang memadai, baik secara emosional maupun informasi. Kondisi ini dapat memperberat tekanan psikologis yang pada gilirannya turut mempengaruhi cara mereka memaknai dan mempertahankan identitas diri sebagai bagian dari bangsa Indonesia.

Berbagai persoalan tersebut menunjukkan bahwa menjaga identitas kebangsaan bagi pelajar Indonesia di luar negeri bukanlah hal yang otomatis terjadi, melainkan tantangan nyata yang memerlukan perhatian serius. Memahami akar permasalahan ini menjadi langkah awal yang penting sebelum menilai sejauh mana peran organisasi seperti PPI mampu memberikan dampak nyata dalam penguatan identitas tersebut.

Berdasarkan artikel oleh Akbar R.M. (2019), di dalam konteks PPI, terdapat sebuah ritual ‘kumpul bareng’ yang berperan dalam membantu menjalin hubungan antara para pelajar Indonesia. Ritual ‘kumpul bareng’ ini tidak hanya dimaksudkan sebagai kegiatan makan bersama ataupun nongkrong bareng, tetapi juga menjalar ke kegiatan formal seperti perayaan Hari Kemerdekaan, Hari Batik, dan kegiatan lainnya yang merayakan identitas Indonesia. Melalui pertemuan ini, terjalin koneksi antara orang-orang Indonesia yang memiliki diskursus dan kesamaan bahasa, candaan, tokoh politik, makanan, serta pengalaman masa kecil yang serupa.  Sehingga fokus dari PPI yaitu tidak harus selalu berbentuk program berskala besar, tetapi dapat dimulai dari penciptaan interaksi yang konsisten dan bermakna yang mengingatkan para pelajar akan keadaan di Tanah Air. 

Keberadaan PPI dapat dipahami sebagai sebuah ruang sosial yang membantu pelajar Indonesia menegakkan identitas mereka di tengah lingkungan multikultural sehingga PPI tidak hanya mempertemukan pelajar berdasarkan kesamaan kewarganegaraan tetapi juga menciptakan sebuah lingkungan intim yang memungkinkan mereka kembali terhubung dengan aspek kehidupan di Indonesia. Dalam aspek ini, bentuk penguatan identitas Indonesia yang diwujudkan oleh PPI tidak hanya dalam menghidupkan simbol-simbol nasionalisme seperti makanan khas, pakaian tradisional, maupun bentuk budaya Indonesia lainnya, tetapi juga melalui interaksi sosial dan rasa memiliki terhadap komunitas. Ketika seorang pelajar dapat berbagi pengalaman dengan orang lain yang memiliki latar belakang yang serupa, muncul rasa bahwa mereka tidak sepenuhnya terpisah dari lingkungan asalnya meskipun secara geografis jauh dari Indonesia. 

Untuk bisa memberikan rasa komunitas tersebut kepada para pelajar, maka PPI harus lebih dahulu merangkul. Cara merangkul ini bisa dilakukan melalui lebih dikembangkannya sistem pendampingan bagi pelajar Indonesia yang baru tiba di luar negeri. Keberadaan komunitas sesama pelajar Indonesia dapat menjadi sebuah ruang awal bagi mahasiswa untuk memperoleh informasi sekaligus menjadi penghubung pertama bagi pelajar baru dengan komunitas Indonesia yang sudah didirikan di luar negeri. 

Ketika berada di ruang Indonesia, pelajar Indonesia memiliki sebuah otoritas untuk merepresentasikan Indonesia di mata orang asing. Mengukur dampak PPI dalam perannya untuk menguatkan identitas pelajar Indonesia tidak bisa hanya diukur melalui perspektif kuantitatif yaitu berdasarkan jumlah kegiatan yang dilaksanakan tetapi diperlukan indikator konkrit seperti tingkat keterlibatan dan keberlanjutan partisipasi pelajar Indonesia dalam kegiatan PPI. PPI juga berpotensi untuk mengubah posisi pelajar Indonesia dari sekedar penerima budaya menjadi pihak yang aktif memperkenalkan budaya Indonesia di panggung internasional. Pelajar dalam berperan sebagai representasi informal Indonesia melalui kegiatan akademik maupun sosial. Hal ini penting sebagai salah satu proses penguatan rasa bangga terhadap identitas nasional sekaligus membangun pemahaman bahwa identitas Indonesia dipertahankan bukan dari menutup diri di depan budaya lain ataupun dibesarkan menjadi centre of attention tetapi dengan menciptakan sebuah keseimbangan antara integrasi dan identitas.

Lingkungan PPI menjadi sebuah ruang organisasi untuk dapat membangun identitas yang lebih terbuka, yaitu identitas yang tetap memiliki akar budaya yang kuat sekaligus mampu beradaptasi dengan keberagaman global. Hal ini diperlihatkan dari kegiatan-kegiatan besar yang dilaksanakan oleh PPI untuk dapat merangkul para pelajar dalam memperkenalkan budaya Indonesia ke mata internasional. Di sisi lain, PPI juga hadir sebagai sebuah komunitas yang menghubungkan sesama pelajar Indonesia dalam sebuah ruang lingkup yang bisa saling berbagi kesamaan nilai, kebiasaan, bahasa, serta simbol budaya menjadi sebuah modal untuk mempertahankan relasi sosial dan memperkuat identitas nasional.

Dengan demikian, dampak PPI dalam penguatan identitas pelajar Indonesia tidak cukup dilihat dari banyaknya program yang diselenggarakan, tetapi dari perubahan yang terjadi pada pelajar yang terlibat di dalamnya. PPI dapat dikatakan memberikan dampak apabila keterlibatan dalam komunitas diikuti dengan meningkatnya rasa memiliki terhadap komunitas Indonesia, kenyamanan dalam mengekspresikan identitas nasional, pemahaman terhadap keberagaman budaya Indonesia, serta kepercayaan diri untuk merepresentasikan Indonesia di lingkungan internasional. Dengan melihat perubahan tersebut, PPI tidak hanya dapat dinilai sebagai penyelenggara kegiatan budaya, tetapi sebagai ruang sosial yang berkontribusi terhadap keberlanjutan identitas pelajar Indonesia di luar negeri.

.

Yuk tes pemahaman kamu dan menangkan hadiah TNG sebesar RM5! 😉

Cuma 1 minggu aja (25 September – 2 Oktober),  jadi jangan sampai kelewatan!

Pemenang ditentukan berdasarkan skor tertinggi yaa 👀

Jangan lupa isi nama pemain dengan nama asli + Instagram kalian!

Contoh: Keumala (keumalaisha)

https://wayground.com/join?gc=57916206


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *