- Disusun Oleh: Divisi Keintelektualan dan Penelitian
Setiap mahasiswa memiliki mimpi, baik menjadi dokter, peneliti, diplomat, maupun impian lain yang pernah terbesit di kepala. Sebuah impian seiring waktu akan terbentuk menjadi ambisi, dan dari ambisi itulah keberanian tumbuh. Keberanian untuk pergi jauh, meninggalkan negaranya, dan merantau demi peluang yang lebih besar. Namun, sebelum naik ke dalam pesawat menuju negara studi, ada satu hal yang sering tidak diperingatkan kepadamu. Orang-orang biasanya mendeskripsikannya dengan kondisi ketika kamu mulai merasa lelah, dan mempertanyakan: “Untuk apa usahaku ini?”.
Ada sebuah paradoks yang sering dialami oleh mahasiswa merantau. Di satu sisi, keputusan untuk merantau merupakan bukti dari ambisi seseorang. Keputusan itu sendiri bukanlah keputusan yang kecil; ia harus meninggalkan yang familiar demi sesuatu yang lebih besar. Pada dasarnya, ini adalah tindakan atas keingintahuannya yang mendalam. Namun di sisi lainnya, justru ambisi itulah yang perlahan pudar di tengah perjuangan. Kenapa? Karena ambisi mulai tidak diiringi dengan rasa penasaran. Rasa ingin tahu digantikan dengan pressure yang berbeda: pressure untuk meraih prestasi beralih menjadi demi prestasi itu sendiri.
Ambisi bukan hanya persoalan motivasi, tetapi bagaimana kita memahami apa yang kita kejar, dan mengapa kita mengejarnya. Dalam dunia psikologi, terdapat dua tipe motivasi, yaitu motivasi intrinsik dan ekstrinsik. Motivasi intrinsik tumbuh dari diri seseorang itu sendiri: rasa penasaran, kesenangan dalam belajar, kepuasan dalam memahami hal baru, dan lain-lain. Sedangkan motivasi ekstrinsik bergerak dari faktor luar, seperti gelar, nilai, pengakuan, atau sekedar tidak ingin mengecewakan orang tuanya. Hal ini bukan berarti motivasi ekstrinsik tidak baik. Namun, masalahnya muncul ketika motivasi tersebut menjadi satu-satunya penggerak menuju impian yang dikejar.
Bayangkan ketika seorang mahasiswa baru saja tiba di negara studinya. Ia membawa harapan yang besar: harapan untuk dirinya sendiri, harapan orang tua, dan harapan orang-orang terdekatnya. Kemudian, ia mulai giat belajar. Otaknya masih dipenuhi pertanyaan, “Bagaimana bisa?” “Kenapa ini terjadi?” “Apalagi yang belum aku ketahui?”. Ia menghadiri kuliah, mengerjakan tugasnya, bahkan mengikuti organisasi dan kompetisi. Secara teknis, semua terlihat baik-baik saja. Tetapi di balik semua itu, faktor awal yang memulai semua ini mulai terkikis. Pertanyaan-pertanyaan yang dulu memenuhi otaknya beralih menjadi ide yang membebani dirinya. Kuliah dihadiri bukan karena ingin belajar, tetapi karena absen. Tugas dikerjakan bukan karena ingin dipahami, tetapi karena deadline. Organisasi diikuti bukan karena substansi, tetapi karena tanggung jawab. Kehidupan orang tersebut perlahan berganti menjadi “Apa yang harus dilakukan setelah ini?”. Alih-alih membesar, mimpi mahasiswa berubah menjadi to-do list.
Inilah sebuah kondisi yang kerap disebut sebagai burnout, atau dalam kasus mahasiswa, merupakan akibat dari usaha untuk ‘menghasilkan’ dibanding memenuhi rasa ingin tahu itu sendiri. Kelelahan ini terjadi ketika seseorang harus menghadapi tekanan yang berlapis. Ada beberapa faktor yang membatasi mahasiswa untuk mengekspresikan ambisi mereka sepenuhnya. Pertama, adanya tekanan finansial. Kuliah merantau, terutama di luar negeri, memerlukan biaya yang tidak kecil. Walaupun ada kesempatan untuk mendapat beasiswa penuh, kebanyakan mahasiswa masih mengandalkan tabungan sendiri. Ketika uang menjadi variabel yang selalu dipertimbangkan, mahasiswa secara tidak sadar mulai memandang kesempatan melalui perhitungan untung dan rugi. Keputusan seperti mengikuti seminar, membeli buku, atau menghadiri workshop tidak lagi didasarkan pada rasa ingin tahu dan berkembang, melainkan pada dasar apakah hal tersebut sepadan secara finansial. Akibatnya, eksplorasi intelektual mahasiswa menjadi terbatas. Hanya aktivitas yang dianggap paling menguntungkan dan sesuai anggaran yang akan diprioritaskan. Sehingga, rasa ingin tahu mahasiswa menjadi terbatas oleh pertimbangan ekonomi.
Kedua, adanya tekanan sosial. Ketika seseorang jauh dari yang familiar, mereka sering membangun identitas baru di lingkungannya yang asing. Dari situlah muncul dorongan untuk membuktikan diri bahwa mereka mampu, bahwa merantau tidak sia-sia, dan bahwa mereka memang pantas berada di sana serta diakui orang-orang sekitarnya. Bentuk pembuktian ini kemudian sering diwujudkan dalam pencapaian yang kasat mata, seperti IPK yang tinggi, aktivitas yang padat, dan lain sebagainya. Lambat laun, citra yang tampak di permukaan mulai mengambil peran yang lebih besar dalam membentuk nilai dirinya dibanding pengalaman yang sebenarnya dirasakan.
Ketiga, adanya tekanan pada diri sendiri. Mahasiswa yang ambisius cenderung membawa standar yang tinggi, dan sering kali sulit merasa puas atas pencapaiannya. “Padahal bisa lebih baik lagi” merupakan sebuah kalimat yang sering terlintas, berpikir bahwa yang dicapai belum memuaskan meskipun sebenarnya sudah mendapatkan hasil yang terbaik. Dalam psikologi, kondisi ini sering dikaitkan dengan achievement-based identity, yaitu ketika harga diri seseorang bergantung pada apa yang ia capai, bukan dirinya sebagai individu. Sehingga, nilai dirinya dianggap valid hanya ketika ada pencapaian baru dan diperoleh melalui keberhasilan, sementara proses dan makna di balik usaha mencapainya sering kali diabaikan. Pola pikir inilah yang kemudian mendorong seseorang untuk terus berambisi tanpa makna yang sepenuhnya dipahami, disertai rasa gagal yang terus dipikirkan, hingga pada akhirnya berujung dengan burnout.
Dalam artian yang sesungguhnya, rasa penasaran adalah kemampuan untuk tetap terbuka terhadap hal-hal yang belum diketahui. Rasa penasaran memungkinkan seseorang untuk terus menemukan makna, walaupun dalam hal-hal yang kecil. Ketika mahasiswa membawa rasa penasaran dalam proses belajarnya, kuliah menjadi ruang untuk terus memperluas wawasan dan mengembangkan intelektualitasnya mahasiswa dalam memahami hal baru. Namun, ketika rasa penasaran menurun, ambisi sering kali mulai kehilangan arah. Seorang mahasiswa mungkin terlihat ambisius dan pekerja keras, tetapi tanpa memahami makna dari pencapaiannya, usaha yang diperbuat perlahan berubah menjadi sekadar tuntutan untuk terus bergerak maju tanpa harapan akhir yang jelas.
Mahasiswa yang paling memanfaatkan masa kuliahnya bukan yang sekadar paling produktif, tetapi mahasiswa yang mampu menemukan makna dan ketertarikan yang berkelanjutan dalam prosesnya. Mereka melakukan sesuatu bukan karena takut tertinggal, tetapi karena ingin memahami sesuatu dengan lebih dalam. Rasa penasaran inilah yang memberikan arah kepada ambisi mahasiswa, sehingga pencapaian bukan hanya target yang harus diselesaikan, tetapi merupakan bagian dari proses bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.
Oleh karena itu, memulihkan rasa penasaran dapat dimulai dengan melakukan hal-hal sepele. Mulai dari membaca artikel dengan topik yang disukai, berdiskusi dengan orang lain, atau memberi waktu untuk diri sendiri sehingga dapat kembali mengeksplorasi banyak hal yang menarik perhatian, karena pada akhirnya yang paling penting adalah “Apakah saya masih penasaran dengan apa yang kuusahakan?”. Ambisi tanpa rasa penasaran bukan lagi sebuah mimpi, melainkan sebuah cara untuk melarikan diri bahwa sebenarnya ambisi tersebut telah kehilangan arah dari apa yang sedang dikejar.
Yuk tes pemahaman kamu dan menangkan hadiah TNG sebesar RM5! 😉
Cuma 1 minggu aja (29 Mei – 05 Juni), jadi jangan sampai kelewatan!
Pemenang ditentukan berdasarkan skor tertinggi yaa 👀
Jangan lupa isi nama pemain dengan nama asli + Instagram kalian!
Contoh: Keumala (keumalaisha)
Leave a Reply