Ranny Rastati |
Bagi sebagian orang, mengenyam pendidikan ke luar negeri adalah sebuah impian. Melanjutkan studi di Malaysia pun dapat menjadi salah satu pilihan. Malaysia memang menjadi salah satu destinasi favorit bagi pelajar Indonesia.
Pada tahun 2022, tercatat hampir 11.000 orang Indonesia yang berkuliah di Malaysia. Menurut Education Malaysia Global Services (EMGS), sejak 2021 hingga 2022, Indonesia adalah negara kedua terbesar yang mengajukan aplikasi visa pelajar di Malaysia.
Bagi saya, kuliah di Malaysia menjadi salah satu opsi ketika akan melanjutkan pendidikan doktoral. Kedekatan jarak antara Indonesia dan Malaysia menjadi salah satu pertimbangan utama. Jarak tempuh yang dekat membuat para pelajar Indonesia lebih leluasa jika sewaktu-waktu harus kembali ke tanah air untuk urusan mendesak. Keistimewaan jarak ini pun membuat banyak pelajar dapat kembali ke tanah air pada masa liburan dan hari raya.
Selain jarak yang dekat, biaya pendidikan dan biaya hidup di Malaysia pun relatif terjangkau, khususnya bagi kalangan kelas menengah Indonesia. Tak heran, banyak pelajar Indonesia yang mampu melanjutkan pendidikan di Malaysia menggunakan dana pribadi.
Di sisi lain, Malaysia memiliki kualitas pendidikan bertaraf internasional. Menurut QS Asia Ranking 2023, Malaysia memiliki enam universitas yang masuk dalam 10 universitas terbaik se-Asia Tenggara yaitu Universiti Malaya (peringkat 3), Universiti Putra Malaysia (peringkat 4), Universiti Kebangsaan Malaysia (peringkat 5), Universiti Sains Malaysia (peringkat 6), Universiti Teknologi Malaysia (peringkat 8), dan Taylor’s University (peringkat 10). Berbagai faktor inilah yang membuat tidak sedikit pelajar yang menempuh pendidikan di Malaysia.
Selama melanjutkan pendidikan di Malaysia, saya tidak merasa sebagai outsider atau orang luar. Sebab, penampilan orang Indonesia dan Malaysia terlihat serupa. Pengalaman seperti ini tidak saya temukan ketika berada di negara barat yang dari ciri fisiknya saja sudah terlihat berbeda dari orang lokal. Pun demikian, memang ada kebiasaan antara orang Indonesia dan Malaysia yang berbeda. Namun perbedaan itu tidak terlalu berdampak dalam kehidupan sehari-hari.
Biodata penulis
Ranny Rastati adalah peneliti komunikasi dan budaya pop di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Indonesia. Saat ini ia sedang melanjutkan pendidikan doktoral di Media and Communication Studies, Universiti Malaya. Pada tahun 2023, ia bergabung dengan Perhimpunan Pelajar Indonesia Universiti Malaya (PPI UM) sebagai anggota Divisi Keintelektualan dan Penelitian. Ia dapat dihubungi melalui email [email protected].
Leave a Reply