Pengalaman Menarik Selama Studi di Malaysia

Rafi Daffa Ramadhani |

Sebagai seorang mahasiswa yang berasal dari Indonesia, saya merasakan pengalaman yang cukup menarik saat pertama kali tinggal di Malaysia. Saya terkejut dengan perbedaan budaya dan adat istiadat yang ada di sana. Tidak hanya itu, saya juga mengalami culture shock (gegar budaya) ketika berada di Malaysia.

Hal yang paling menarik perhatian saya adalah ketika saya menemukan bahwa di Malaysia tidak ada parkir liar seperti yang ada di Indonesia. Semua kendaraan harus parkir di tempat yang sudah disediakan. Hal ini cukup mengejutkan saya karena di Indonesia parkir liar adalah hal yang biasa terjadi.

Saya juga terkejut dengan mobil dan motor di Malaysia yang melaju dengan sangat cepat. Saya harus beradaptasi dengan kecepatan yang tinggi karena di Indonesia, kecepatan rata-rata kendaraan jauh lebih lambat daripada di Malaysia.

Saat pertama kali puasa di Malaysia, saya merasa kagum dengan sifat toleransi antar agama di Malaysia. Di sini, tempat makan tetap buka untuk masyarakat non-Islam. Saya berpikir bahwa ini adalah hal yang bagus karena menunjukkan toleransi antar umat beragama.

Hal yang menarik lainnya adalah keberadaan polisi Islam di Malaysia. Polisi ini bertanggung jawab untuk memastikan bahwa aturan dan etika Islam dijaga dengan baik. Pada saat puasa misalnya, polisi Islam akan berpatroli di sekitar tempat makan untuk mengamankan masyarakat yang beragama Islam yang tidak berpuasa dan makan di tempat umum. Biasanya, mereka dikenakan denda agar tidak mengulanginya lagi. Mengetahui hal itu, saya merasa terkejut karena saya tidak pernah mendengar tentang hal ini sebelumnya di Indonesia.

Selain itu, saya juga mengalami kesulitan dalam berkomunikasi dengan orang-orang Malaysia. Meskipun bahasa Indonesia hampir sama dengan bahasa Melayu, tetapi ada beberapa kata dan frasa yang berbeda antara bahasa Melayu di Indonesia dan Malaysia. Sebagai contoh, kamar dalam bahasa Melayu disebut sebagai bilik dan mobil disebut sebagai kereta. Awalnya, hal ini cukup membingungkan saya. Namun setelah tinggal selama enam bulan di Malaysia, saya mulai terbiasa dan memahami perbedaan-perbedaan ini.

Makanan Indonesia seperti klepon, sate, nasi padang, dan batagor juga banyak ditemukan di Malaysia. Makanan tersebut biasanya dijual di area Kampung Baru dan Chowkit. Jika merasa rindu dengan makanan Indonesia, saya pergi ke sana untuk mendapatkan makanan Indonesia.

Menurut saya, pengalaman culture shock yang saya alami di Malaysia merupakan pengalaman yang berharga. Dari situ, saya belajar untuk lebih terbuka terhadap perbedaan budaya dan adat istiadat yang ada di negara lain.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *